Smart Way to Own a Company (Cara Cerdas Untuk Memiliki Sebuah Perusahaan)

Marco Poetra Kawet, Kepala Kantor Perwakilan Batam Bursa Efek Indonesia Indonesia Stock Exchange (IDX)

Oleh : Marco Poetra Kawet

Kepala Kantor Perwakilan Batam

PT Bursa Efek Indonesia

Indonesia Stock Exchange (IDX)

BATAM, Kepritoday.com – Suatu ketika di beberapa titik persimpangan jalan kota ini (Batam), saya menjumpai anak-anak berusia 2 sampai dengan 5 tahun atau mungkin beberapa ada yang usianya lebih tua.

Salah satu diantaranya ada seorang anak sambil menggendong adiknya yang lebih kecil menggenggam setumpuk koran yang harus mereka jual kepada setiap pengendara yang berhenti di persimpangan jalan dan sedang menunggu lampu hijau untuk giliran jalan. Tak jarang pula saya jumpai mereka yang sedang “bertugas” hingga larut malam yang seharusnya bukan waktu anak-anak untuk berada diluar rumah.

Melihat pemandangan seperti itu membuat saya termenung dan bertanya-tanya, sebenarnya dimanakah orang tua mereka? sehingga mereka harus menanggung beban sedemikian berat untuk menyambung hidup? Jangankan untuk sekolah, untuk makan sehari-hari saja mereka masih berharap belas kasihan para pengendara. Kemudian saya membayangkan andai saja orang tua mereka dahulu memikirkan untuk menabung dan menginvestasikan dana, mungkin nasib mereka akan jauh lebih baik saat ini. Anak-anak itu bisa bersekolah, bermain dengan ceria bersama teman-temannya, makan dengan cukup, sehat, bersih dan hidup dengan layak.

Ya, masyarakat yang sejahtera tentunya.

Nah, bagaimana dengan kita yang saat ini mungkin memiliki nasib yang lebih baik dan masih memiliki kesempatan untuk mempersiapkan masa depan kita serta anak- anak kita dengan lebih baik? Sudahkah kita berpikir untuk menabung dan menginvestasikan dana kita dengan tepat, pada instrumen yang tepat?

Pertanyaannya, PENTINGKAH BERINVESTASI?

Harga sebuah sepeda motor pada tahun 1992 sekitar Rp 2,5 juta, sementara saat ini untuk memiliki sepeda motor pada umumnya seharga diatas Rp 10 juta. Begitu pula harga sebuah burger merk salah satu perusahaan cepat saji pada tahun 1996 seharga Rp 6.600,- sementara saat ini untuk menikmati jenis makanan yang sama kita perlu mengeluarkan uang sekitar Rp 30.000,-. Kondisi seperti inilah yang disebut dengan inflasi. Ketika harga suatu produk itu meningkat, sementara nilai mata uang kita berkurang.

Pada periode tahun 80-an sampai 90-an di wilayah Nagoya terdapat sebuah supermarket yang terkenal pada masanya yaitu WISESA. Dengan uang sejumlah Rp 100.000,- pada masa itu, begitu banyak jenis barang yang dapat kita masukkan ke dalam keranjang, namun jika dibandingkan dengan saat ini apakah kondisinya masih sama?

Lalu bagaimana cara untuk mengatasi inflasi? jawabannya adalah INVESTASI.

Data menyebutkan bahwa rata-rata inflasi dalam 8 tahun terakhir sekitar 6%, yang artinya apabila kita ingin mengatasi inflasi tersebut maka kita perlu mencari instrumen investasi yang return-nya berada diatas 6%.

Adapun instrumen investasi yang dilindungi secara hukum di Indonesia contohnya; Deposito, Emas, Saham, Reksadana, Obligasi/Surat Utang Negara, Sukuk dan yang saat ini sudah banyak dilirik oleh masyarakat adalah saham. Dimana saham yang dapat dimiliki oleh masyarakat adalah saham-saham perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT) dan yang telah melakukan mekanisme Initial Public Offering (IPO) atau dikenal juga dengan istilah Go Public di Bursa Efek Indonesia sebagai satu-satunya regulator industri pasar modal di Indonesia yang juga berada dibawah pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sesungguhnya, setiap hari kita sudah bersentuhan dengan produk-produk pasar modal contohnya; pasta gigi pepsodent yang kita gunakan setiap hari pada saat sikat gigi, atau mie instant indomie dan pop mie yang setiap hari dikonsumsi sebanyak 40 juta kemasan se-Indonesia.

Jamu sido muncul yang sering dikonsumsi masyarakat untuk tetap sehat dan bugar, taksi bluebird yang memiliki armada sebanyak 50.000-an unit di Indonesia dan juga sudah beroperasi di Batam. Selain itu ada juga ACE hardware yang sudah memiliki 2 gerai di Batam tempat orang sering mencari perlengkapan rumah, Indomaret atau Alfamart yang dalam 2 tahun terakhir membombardir Batam dengan gerainya yang berada dimana-mana.

Matahari Departement Store yang selalu ramai dikujungi masyarakat untuk membeli pakaian setiap menyambut hari besar agama, atau emas produksi Antam yang sering dijadikan perhiasan baik kaum pria maupun wanita, bahkan bank-bank di Indonesia dimana 190 juta masyarakat Indonesia sudah memiliki rekening didalamnya.

Bila kita perhatikan, semua perusahaan itu memiliki gelar yang sama diujung namanya, yaitu “Tbk.” Batam sendiri telah memiliki 3 perusahaan yang telah Go Public yaitu PT Citra Tubindo Tbk, PT Sat Nusa Persada Tbk, dan PT Hotel Mandarin Regency Tbk.

Kita semua tentu sering menggunakan produk-produk mereka, namun mari kita renungkan apakah kita tidak terpikir untuk berinvestasi dengan membeli saham perusahaan tersebut? Setiap kita tentu punya cita-cita ingin menjadi pengusaha atau memiliki perusahaan bukan? pasar modal melalui Bursa Efek Indonesia memberikan kesempatan bagi anda untuk menjadi pemilik lebih dari 535 perusahaan ternama yang ada di Indonesia.

Banyak kalangan bertanya kapan dan bagaimana membeli saham perusahaan yang tepat? jawabannya adalah membeli saham perusahaan yang telah Go Public di Bursa Efek Indonesia dimana perusahaan tersebut telah melewati tahapan yang ketat seperti audit laporan keuangan, legalisasi perusahaan hingga proses valuasi harga yang dapat tercermin dari prospektus atau profil perusahaan tersebut.

Hal ini juga diatur di dalam Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 Penjelasan Angka 15 yang isi kutipannya yaitu “Penawaran Umum dalam angka ini meliputi penawaran Efek oleh Emiten yang dilakukan dalam wilayah Republik Indonesia atau kepada warga negara Indonesia dengan menggunakan media massa atau ditawarkan kepada lebih dari 100 (seratus) Pihak atau telah dijual kepada lebih dari 50 (lima puluh) Pihak dalam batas nilai serta batas waktu tertentu…”

Apa sajakah benefit bagi masyarakat yang membeli saham? mulai dari mendapatkan Deviden perusahaan yang dimiliki, memiliki hak suara dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), hak memesan efek (saham) terlebih dahulu (HMETD), hingga memperoleh capital gain yang merupakan selisih kenaikan harga saham ketika menjual kembali sahamnya dibanding harga saham pada saat pembelian. Intinya dengan membeli saham artinya kita menjadi pemilik perusahaan yang sah dan resmi secara hukum.

Apakah saham itu mahal? Mari kita lihat, apakah mahal jika harga saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp800,- /per lembar? dan Rp8.500,-/per lembar untuk PT Astra International Tbk (ASII) atau Rp13.000,- sd Rp15.000,- /per lembar untuk saham Bank BRI (BBRI) atau Bank BCA (BBCA) ?

Apakah untung membeli saham itu? perlu diketahui bahwa Pasar Modal Indonesia berada pada peringkat No.1 di dunia, dari segi tingkat return yang lebih dari 200% dalam kurun waktu rata- rata 10 tahun terakhir dan 6% YTD (Year to Date) 2017.

Investasi dalam bentuk saham memang memberikan keuntungan terbesar dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya namun bukan berarti tanpa resiko. Fluktuasi harga saham, kebijakan pemerintah juga merupakan bentuk resiko yang dihadapi.

Berbicara tentang investasi juga berbicara optimisme terhadap kondisi pasar dan Indonesia secara keseluruhan. Kondisi ekonomi Indonesia yang baik dan bertumbuh merupakan daya tarik bukan hanya masyarakat domestik, namun juga sangat menarik perhatian masyarakat asing untuk masuk ke Pasar Modal Indonesia. Hal ini terlihat dari komposisi kepemilikan saham di Indonesia yang dimiliki oleh asing sebesar 55% dibanding 45% kepemilikan domestik.

Cukup ironis ketika melihat kenyataan bahwa perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia, pekerjanya juga orang Indonesia sendiri, produk dan bahan bakunya dari dalam negeri hingga pembelinya pun masyarakat Indonesia sendiri, namun keuntungan perusahaannya lebih banyak dinikmati dan dibawa keluar Indonesia oleh asing.

Artinya orang asing yakin dan optimis pada pasar Indonesia, sebaliknya domestik justru kurang optimis. Hal ini yang membuat pihak otoritas pasar modal bekerja keras dalam mengedukasi masyarakat agar mengenal industri pasar modal yang sesungguhnya dikatakan sebagai barometer perekonomian bangsa.

Jumlah investor perorangan yang semakin bertumbuh setiap tahunnya hingga kini berjumlah lebih dari 520.000 orang, dengan nilai kapitalisasi pasar yang sudah menembus Rp 6,100 triliun dengan rata-rata transaksi di pasar modal sebesar 7,5 triliun /per hari. Hal ini menunjukkan bahwa pasar modal bertumbuh dan menjadi jawaban bagi masyarakat yang ingin berinvestasi dengan cepat, tepat dan aman yang dilindungi oleh undang-undang.

Pilihan itu ada dihadapan kita, apakah kita memilih yang aman? atau memilih yang bodong dengan hanya mengedepankan keuntungan? selanjutnya bagaimana kita dapat bijak dalam menyiapkan masa depan kita dan anak-anak kita yang lebih baik.

Berbagai kegiatan edukasi/seminar (GRATIS) telah dilaksanakan secara rutin sejak lama kepada masyarakat oleh Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia yang berlokasi di Komplek Mahkota Raya Blok A No. 11 di Batam Center, Batam (Tlp. 0778-7483348). (Andri/Oscar).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *