Hutan Mangrove Lingga Terancam Punah, Akibat Keserakahan Pengusaha Dapur Arang

Kayu Bakau Yang Siap Diolah Untuk Dijadikan Arang Yang Marak di Kabupaten Lingga.

LINGGA, Kepritoday.com – Bisnis kayu bakau yang diolah menjadi kayu arang sebagai bahan bakar untuk ekspor maupun lokal, yang dulu pernah meredup, kini mulai marak kembali. Menurut informasi semenjak adanya kebijakan baru dengan kedok koperasi usaha, kini bisnis yang satu ini marak kembali beroperasi di Kabupaten Lingga.

Penelusuran Kepritoday.com di beberapa titik wilayah di Kabupaten Lingga saja terdapat lebih dari 10 tempat pengolahan kayu bakau untuk di jadikan arang.

“Didaerah kita ini saja ada lebih dari 5 lokasi panglong produksi dapur arang, belum lagi yang di Daik, sungai Pinang, Lingga Utara bahkan sampai Senayang dan Pulau-pulau lainnya.” Kata salah seorang Aktifis Muda Kecamatan Singkep, saat bincang-bincang bersama awak Media ini.

Hal yang menjadi keprihatinan bersama adalah, pemanfaatan hutan bakau untuk produksi arang yang mempunyai nilai ekonomis tinggi ini sepertinya tidak mengacu pada aturan. Hutan bakau alami yang memang hamper memenuhi seluruh wilayah kepulauan di Kabupaten Lingga, pelan-pelan mulai menyusut. Dikhawatirkan suatu hari nanti tidak ada lagi hutan Mangrove di Bunda Tanah Melayu, akibat keserakahan oknum-oknum pengusaha dapur arang.

“Hutan Mangrove itu adalah habitat alami untuk berkembang biaknya berbagai jenis ikan, udang, kepiting dan menjadi sumber makanan bagi habitat dikawasan pantai dan lautan. Jika tidak ada bakau, maka rusaklah ekosistem diwilayah tersebut.” Ungkapnya lagi.

Terkait dengan fakta lapangan ini, Kepala Badan Lingkungan Hidup, Kabupaten Lingga, Junaidi Adjam, mengaku sangat prihatin dengan kondisi hutan bakau di Lingga saat ini. Bahkan pihaknya (BLH-red) sudah melakukan pengecekkan secara menyeluruh terkaitaktifitas panglong dapur arang diseluruh Kabupaten Lingga.

“Saya sudah cek kelapangan, saat ini setidaknya ada 27 atau 28 panglong arang yang menebang hutan bakau di Lingga ini sangat banyak, berapa hektar hutan bakau di Lingga dibabat setiap hari. Kita disini takutnya nanti suatu hari tidak ada lagi bakau di Lingga.” Katanya.

Sementara itu, terkait tindakan yang akan dilakukan Badan Lingkungan Hidup kedepan, Junaidi mengaku, mereka hanya memiliki kewenangan yang terbatas, sebab kewenangan penanganan perizinan panglong arang dan penebangan kawasan hutan bakau ini, ada pada pihak Provinsi Kepri.

“Kita sifatnya hanya memberikan laporan saja, sudah kita data, kalau legalitas yang saya tahu, mereka ini masuk kedalam koperasi mangrove yang dikelola Kementerian. Namun, fakta dilapangan yang saya tahu, mereka tidak mengantongi dokumen UKL/RPL untuk usaha kelestarian lingkungan dan rencana pengendalian lingkungan.”Jelas Junaidi.

Ditambahkannya, hal lainnya keharusan penanaman kembali atau pelestarian mangrove dilokasi pasca penebangan hutan bakau ini tidak dilakukan, jadi dari fakta ini semua, setelah kita data dan sudah kita laporkan ke Bupati Lingga, dan juga pihak Provinsi, kita minta hal ini betul-betul diawasi kedepan dan ditertibkan. Ungkapnya.

Hal penting yang menjadi perhatian dan kekhawatiran BLH Kabupaten Lingga adalah, rusak dan punahnya hutan bakau di Kabupaten Lingga suatu hari nanti, akibat penebangan dan eksploitasi besar-besaran terhadap sumber daya Lingga yang satu ini.

“Kita menghimbau kepada pihak Provinsi Kepri, untuk melakukan penertiban terkait operasi panglong arang di Lingga. Kalau tidak ada kelengkapan izin , saya harap dihentikan saja, jangan koperasi dijadikan kedok untuk membabat hutan bakau di Lingga. Seharusnya, pihak pengusaha dapur arang juga turut menjaga kelestarian huatan bakau dengan menanam kembali lokasi yang sudah ditebang sesuai aturannya, tapi selama ini hal tersebut tidak dijalani, dari puluhan bahkan ratusan hektar hutan bakau di Lingga habis ditebang.” Tambahnya Lagi dengan nada kesal. (Ramlan).

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *